Resensi Buku

Ekopedagogi Islam: Pesan Merawat Bumi dari Buku Islam dan Lingkungan Karya M. Quraish Shihab

Oleh: Muhaemin
Dosen Magister Pendidikan Agama Islam, Pascasarjana UIN Palopo

Merawat Bumi sebagai Ibadah

Kerusakan lingkungan bukan lagi sekadar isu para ilmuwan. Banjir, udara kotor, cuaca ekstrem, hingga krisis pangan kini menjadi ancaman nyata dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah situasi genting ini, buku Islam dan Lingkungan karya Prof. Dr. M. Quraish Shihab hadir sebagai alarm moral dan spiritual bagi umat Islam. Dengan gaya bahasa yang sejuk dan mudah dicerna, Quraish Shihab mengingatkan bahwa merawat bumi bukan hanya tugas aktivis lingkungan, tetapi juga bagian dari ibadah dan perintah agama.

Islam Lebih Dulu Bicara Ekologi

Banyak orang mengira isu perubahan iklim adalah fenomena modern. Padahal, sejak 14 abad silam, Al-Qur’an sudah menyinggung soal kerusakan ekologis akibat ulah manusia. Quraish Shihab menegaskan bahwa Islam telah menanamkan etika ekologis jauh sebelum istilah global warming dikenal sains modern. Dalam bukunya, sang mufasir memaknai kerusakan alam sebagai pelanggaran moral, spiritual, dan sosial. Ketika manusia merusak alam, sesungguhnya ia sedang merusak dirinya sendiri. Di sinilah pesan penting buku ini: ekologi bukan sekadar urusan teknis, melainkan juga urusan iman.

 

Diterbitkan Dalam Momentum Penting

Buku ini diterbitkan bertepatan dengan Konferensi Internasional Agama dan Perubahan Iklim Majelis Hukama Al-Muslimin (MHM) di Jakarta, tahun 2023. Dalam pengantarnya, Quraish Shihab menyoroti salah satu krisis terbesar umat manusia saat ini pencemaran lingkungan yang semakin tak terkendali. Ia menegaskan, bila umat beragama hanya fokus pada ibadah pribadi dan melupakan amanah menjaga bumi, maka agama kehilangan fungsinya sebagai rahmatan lil ‘alamin.

Tujuan Islam dan Maqashid Syariah

Pada bagian awal, penulis menguraikan tujuan Islam melalui konsep maqashid syariah: menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Kini banyak ulama menambahkan satu poin penting: menjaga lingkungan. Sebab tanpa alam yang sehat, kelima tujuan syariat di atas mustahil terwujud. Inilah logika teologis buku ini: memelihara bumi bukan sekadar aksi aktivisme, melainkan bagian dari penjagaan terhadap syariat Allah.

Membaca Alam sebagai Ayat Tuhan

Quraish Shihab mengajak pembaca memahami lingkungan dalam tiga bentuk utama:

  1. Lingkungan alami,

  2. Lingkungan buatan,

  3. Lingkungan sosial-budaya.

Ketiganya saling berkaitan jika satu rusak, manusia akan menanggung akibatnya. Buku ini juga memuat data ilmiah yang memperingatkan: jika pencemaran tidak dikendalikan, pada tahun 2050 suhu bumi akan meningkat drastis hingga waktu subuh menjadi satu-satunya saat yang terasa sejuk. Ini bukan sekadar prediksi, melainkan ancaman nyata yang sudah kita rasakan hari ini.

Al-Qur’an Mengingatkan: Kerusakan Itu Ulah Manusia

Dalam tafsir QS. Ar-Rum (30): 41, istilah al-fasad dimaknai sebagai rusaknya keseimbangan alam akibat kelalaian manusia. Semakin besar kerusakan, semakin besar pula bencana yang kembali menimpa manusia itu sendiri. Konsep inilah yang melahirkan gagasan ekopedagogi Islam, pendidikan lingkungan dalam bingkai Al-Qur’an dan akhlak. Alam bukan benda mati; ia makhluk Allah yang bertasbih, dan manusia tidak berhak memperlakukannya semena-mena.

Khalifah: Penjaga, Bukan Penguasa

Buku ini menegaskan kesalahan umum dalam memahami konsep khalifah. Banyak yang menganggap manusia penguasa bumi, padahal sejatinya manusia hanyalah pengelola yang diberi amanah. Ketika amanah itu diabaikan, bencana ekologis menjadi konsekuensi yang tak terhindarkan. Jika manusia memosisikan diri sebagai penakluk alam, yang lahir adalah eksploitasi, deforestasi, polusi, dan krisis pangan. Karena itu, Al-Qur’an menegaskan pentingnya keseimbangan ekologis sebagaimana pesan QS. Al-An’am (7): 85 dan QS. Hud (11): 6.

Akhlak Lingkungan: Ibadah yang Sering Terlupakan

Bagian paling menarik dari buku ini adalah pembahasan tentang akhlak di tempat sepi. Ketika seseorang berada di tengah hutan dan tak ada yang melihatnya di situlah moral sejati diuji. Merusak pohon, membakar lahan, atau mencemari sungai tetap dilarang, karena bumi bukan milik pribadi, melainkan amanah Tuhan untuk generasi berikutnya. Kesadaran ini sangat relevan hari ini, di tengah praktik eksploitasi alam yang sering dibungkus dengan dalih ekonomi.

Seruan untuk Akademisi: Ekopedagogi dan Ekoteologi

Sebagai dosen Pendidikan Agama Islam, saya memandang buku ini bukan sekadar bacaan rohani, tetapi rujukan akademik yang penting. Di banyak kampus Islam, isu ekologi masih dipandang sebagai tema pinggiran. Padahal tanpa kesadaran ekologis:

  • ajaran akhlak kehilangan maknanya,

  • pembangunan tidak berkelanjutan, dan

  • generasi muda kehilangan masa depan.

Sejalan dengan gagasan ekoteologi Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, alam adalah bagian dari ibadah manusia kepada Allah. Karena itu, akademisi, guru PAI, dai, dan pendidik perlu menanamkan literasi lingkungan dalam khutbah, kurikulum, riset, maupun kegiatan sosial. Menanam pohon, mengelola sampah, mengurangi plastik, atau menghemat energi, semuanya adalah bentuk ibadah sosial yang pahalanya terus mengalir.

Siapa yang Perlu Membaca Buku Ini?

Buku Islam dan Lingkungan tergolong ringan, pendek, dan mudah dipahami. Sangat cocok untuk:

  • santri dan mahasiswa,

  • pendidik dan penyuluh agama,

  • pemuka masyarakat,

  • aktivis lingkungan,

  • serta orang tua yang ingin menanamkan cinta bumi pada anak-anaknya.

Dengan bahasa yang menyentuh, buku ini mengingatkan bahwa bumi bukan milik kita, melainkan titipan yang harus dikembalikan dalam keadaan baik.

Kesimpulan

Islam dan Lingkungan bukan sekadar buku, melainkan cermin kesadaran ekologis umat beriman. Ia menyatukan dalil, etika, dan keprihatinan terhadap bumi dalam satu napas spiritual yang lembut.

Quraish Shihab tidak menggurui, ia mengajak pembaca bercermin: selama ini kita menikmati bumi, tapi sudahkah kita menjaganya dan mendoakannya?

Buku ini layak menjadi bacaan wajib bagi siapa pun yang ingin memahami agama tidak hanya dalam ruang ibadah, tetapi juga dalam ruang ekologi. Di tengah kerusakan alam yang semakin parah, karya ini berdiri sebagai alarm iman: Merawat bumi adalah perintah Tuhan, mengabaikannya adalah dosa sosial dan spiritual.