Muhasabah Jumat: Ramadan dan Pentingnya Ilmu dalam Ibadah
Saat ini kita berada di penghujung bulan syakban. Dua hal yang dianjurkan di akhir bulan syakban adalah saling memaafkanmenyambut ramadan dengan gembira.Mengapa ramadan perlu disambut gembira? Karena bulan ramadan adalah bulan yang penuh berkah sebagaimana disebutkan dalam muhasabah jumat lalu bahwa ramadan adalah kesempatan emas dalam meraihkan ampunan dan jalan menuju taqwa.
Ulama ahli tafsir Indonesia penulis tafsir al-Misbah Prof. Dr. Quraish Shihab menjelaskan makna ungkapan “marhaban ya Ramadan” setidaknya memiliki dua hal. Pertama Marhaban artinya ungkapan selamat datang di tempat yang luas, artinya diterima dengan hati yang lapang. Kedua, marhaban diambil dari kata “marhab” yang berarti stasiun. Stasiun adalah tempat melengkapi perbekalan bagi kendaraan. Hal ini dapat dimaknai posisi ramadan sebagai kesempatan melakukan perbaikan diri (mengisi bekal spiritual) untuk menghadapi ujian dalam kehidupan yang semakin kompleks.
Hujjatul Islam, Imam al-Gazali mengingatkan kita betapa pentingnya posisi bulan ramadan sebagai kesempatan untuk menghilangkan penyakit hati. Penyakit hati disini dapat berupa sikap ananiyah (egois), hasad (dengki), riya’ (suka pamer), ujub (membanggakan hal yang dimiliki), takabbur (sombong) , kizb (dusta) dan penyakit hati lainnya. Untuk mencapai tujuan ini, ibadah ramadan harus dibarengi dengan ilmu yang cukup, itulah sebabnya sudah menjadi tradisi di Indonesia selama ramadan diisi dengan ceramah agama untuk menambah pengetahuan jamaah tentang puasa maupun ibadah lainnya. Ini yang perlu dipahami Masyarakat, bahwa majlis ilmu sangat penting dalam membangun pemahaman yang utuh tentang ibadah.
Allah swt berfirman dalam Surat Al-Isra Ayat 36:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ ۚ إِنَّ ٱلسَّمْعَ وَٱلْبَصَرَ وَٱلْفُؤَادَ كُلُّ أُو۟لَٰٓئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔولًا
Artinya: Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.
Karena kurangnya ilmu dan spirit beribadah, maka selama bulan suci sering dijumpai hal sebagai berikut:
- Berpuasa tapi tapi malas melakukan ibadah lain. Ia hanya melaksanakan shalat wajib dan puasa, namun tidak berupaya secara maksimal untuk melakukan ibadah lainnya seperti sedekah, tadarus dan I’tikaf. Puasa dilihat sebagai perpindahan jam makan saja sehingga malas melaksanakan amaliyah ramadan
- Berpuasa tapi tidak disertai ilmu yang dalam tentang puasa. Ia puasa tapi masih suka berdusta, suka bergosip, atau suka mengolok-olok orang lain. Berpuasa tapi banyak menghabiskanwaktu untuk menyebarkan berita bohong dan lain sebagainya.
- Banyak yang tidak berpuasa karena alasan yang ditidak dibenarkan syariat, misalnya dia tidak puasa karena susah bangun sahur.
- Sering ragu-ragu apakah puasanya diterima atau tidak.
- Selama ramadan masih suka melanggar aturan baik aturan agama maupun aturan Pemerintah yang sesuai dengan aturan agama seperti aturan lalu-lintas yang menyangkut keselamatan jiwa. Contohnya selama ramadan banyak balap liar.
Sebagaimana diketahui, salahsatu inti puasa dalam kemampuan menahan diri/pengendalian diri. Hal ini membutuhkan ilmu yang cukup dalam menjalani ibadah.
Puasa sebagai salahsatu rukun Islam memiliki tujuan dan manfaat yang amat penting. Menurut Prof Quraish Shihab dalam tafsir al-Misbah ketika menjelaskan penafsiran surah al-Baqarah ayat 183 dan 184, bahwa dalam ayat tersebut (ayat 183), kewajiban puasa tanpa menunjuk siapa yang mewajibkannya (diwajibkan atas kamu). Hal ini mengisyaratkan bahwa puasa ini amat penting dan bermanfaat, sehingga seandainya bukan Allah yang mewajibkannya, niscaya manusia sendiri yang akan mewajibkannya atas diri sendirinya.
Oleh karena itu mari kita bahu membahu mengisi ramadan dengan majlis ilmu khususnya bagi generasi muda. Dengan adanya majlis ilmu dan program keagamaan maka ini dapat membantu generasi muda untuk memahami tujuan ibadah yang sebenarnya dan mampu menjadi calon pemimpin yang berakhlak mulia.
Muhaemin (Direktur Pascasarjana IAIN Palopo)

Tinggalkan Balasan