Pascasarjana UIN Palopo Ikuti FORDIPAS 2026 dan Perkuat Kerja Sama Pascasarjana PTKIN
PADANG-Pascasarjana UIN Palopo terus memperkuat kiprah akademik dan jejaring kelembagaan melalui partisipasi dalam Forum Direktur Pascasarjana Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (FORDIPAS) 2026 yang dirangkaikan dengan The 6th International Conference on Islam, Law and Society (INCOILS) 2026. Kegiatan tersebut berlangsung di The ZHM Premiere Padang, Sumatera Barat, pada 6–8 Agustus 2026.
FORDIPAS merupakan forum yang mempertemukan para Direktur Pascasarjana dan unit terkait untuk memperkuat komunikasi, kolaborasi, dan kerja sama antarperguruan tinggi keagamaan Islam (PTKI) di Indonesia. Forum ini telah berlangsung secara rutin dan pada tahun 2026 memasuki pertemuan tahunan ke-13, sedangkan INCOILS memasuki penyelenggaraan yang ke-6.
Pada tahun ini, Pascasarjana UIN Imam Bonjol Padang menjadi tuan rumah penyelenggaraan FORDIPAS 2026. Kegiatan dibuka oleh Direktur Jenderal Pendidikan Islam yang diwakili oleh Prof. Dr. Phil. Sahiron.
Dalam sambutannya, Prof. Sahiron menegaskan pentingnya meningkatkan peran Pascasarjana PTKI dalam pengembangan akademik dan penguatan jejaring keilmuan. Ia juga menekankan pentingnya peningkatan kapasitas dosen PTKI agar mampu berkiprah di tingkat global.

Prof. Sahiron mendorong agar forum Pascasarjana tidak hanya melibatkan PTKIN, tetapi juga membuka ruang partisipasi bagi Pascasarjana perguruan tinggi keagamaan Islam swasta.
Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain Prof. Dr. Phil. Sahiron dari Kementerian Agama, Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah, Prof. Jiwon Suh dari Korea Selatan, serta Dr. Yahya Jahan Giri dari Kedutaan Besar Republik Islam Iran.
Selain sesi seminar dan konferensi, para Direktur Pascasarjana mengikuti forum diskusi kelompok terarah (focus group discussion/FGD) serta penandatanganan dan pembaruan naskah kerja sama antarpascasarjana PTKIN.
Dalam pertemuan tersebut, dibahas sejumlah isu strategis, antara lain evaluasi pembukaan program studi Pascasarjana, regulasi akreditasi program studi, penerapan jalur Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), serta pengembangan keilmuan Islam yang mampu merespons tantangan global secara kritis, inklusif, dan berkelanjutan.
Pembahasan mengenai akreditasi menjadi salah satu agenda penting dalam forum tersebut. Akreditasi tidak hanya dipandang sebagai pemenuhan administratif, tetapi juga sebagai instrumen untuk memastikan keberlanjutan dan peningkatan mutu Pascasarjana. Karena itu, Pascasarjana UIN Palopo perlu terus memperkuat sistem penjaminan mutu, tata kelola akademik, kualitas pembelajaran, produktivitas riset dan publikasi, serta jejaring kerja sama sebagai bagian dari upaya meningkatkan daya saing dan kesiapan menghadapi proses akreditasi.
Pascasarjana UIN Palopo turut berperan aktif dalam forum tersebut. Kegiatan diikuti secara langsung oleh Direktur Pascasarjana UIN Palopo, Prof. Dr. Muhaemin, M.A.
Keikutsertaan tersebut juga ditandai dengan pembaruan naskah kerja sama antarpascasarjana PTKIN. Kerja sama ini penting karena setiap perguruan tinggi memiliki keunggulan akademik yang dapat saling melengkapi dan mendukung pengembangan kelembagaan.
“Setiap Pascasarjana memiliki keunggulan yang dapat mendukung satu sama lain. Karena itu, kerja sama bukan hanya penting untuk memperluas jejaring, tetapi juga menjadi strategi untuk meningkatkan mutu akademik dan daya saing Pascasarjana,” ujar Prof. Muhaemin.
Keikutsertaan Direktur Pascasarjana UIN Palopo dalam FORDIPAS dan INCOILS 2026 menjadi momentum penting untuk memperluas wawasan akademik sekaligus memperkuat jejaring Pascasarjana UIN Palopo dengan berbagai perguruan tinggi keagamaan Islam di Indonesia dan mitra internasional.
Forum tersebut juga memberikan sejumlah gagasan strategis bagi pengembangan Pascasarjana UIN Palopo, khususnya dalam memperkuat integrasi keilmuan, meningkatkan kualitas riset dan publikasi, serta membangun kolaborasi akademik yang lebih luas.

Forum ini sekaligus meneguhkan peran strategis Pascasarjana dalam menjaga mutu pendidikan tinggi. Dalam salah satu sesi diskusi, Prof. Mujiburrahman, Ph.D. dari UIN Antasari Banjarmasin mengingatkan pentingnya PTKIN tetap berada pada jalur pendidikan yang tepat, yaitu melahirkan sarjana yang sehat secara intelektual dan mampu menjadi warga negara yang baik (good citizen).
Pandangan tersebut mendapat perhatian dari peserta forum. Forum juga menegaskan bahwa pengembangan Pascasarjana tidak semata-mata diukur dari jumlah mahasiswa, tetapi terutama dari mutu proses pendidikan, kualitas riset, dan kompetensi lulusan.
Keikutsertaan dalam FORDIPAS 2026 menjadi bagian dari komitmen Pascasarjana UIN Palopo untuk terus memperkuat mutu, memperluas jejaring, dan meningkatkan daya saing akademik. Penguatan kerja sama antarpascasarjana, peningkatan kualitas riset dan publikasi, serta kesiapan menghadapi akreditasi diharapkan dapat mendukung terwujudnya Pascasarjana yang unggul, adaptif, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan keilmuan Islam di tingkat nasional maupun global.

Tinggalkan Balasan