Pascasarjana UIN Palopo Gelar Kuliah Pakar, Perkuat Kompetensi Penelitian dan Integritas Akademik
Palopo, 15 Agustus 2026 — Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Palopo menyelenggarakan Kuliah Pakar di Aula Pascasarjana UIN Palopo, Sabtu (15/8/2026). Kegiatan ini mengangkat tema “Penguatan Kompetensi Penelitian ke Multidisiplin Ilmiah” dengan menghadirkan Prof. Dr. Fahmi Gunawan, M.Hum. dan Prof. Dr. Sitti Mania, M.Ag. sebagai narasumber.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari implementasi kerja sama antara UIN Palopo dengan UIN Alauddin Makassar dan UIN Kendari dalam penguatan bidang akademik, khususnya pengembangan kompetensi penelitian dan peningkatan kualitas sumber daya akademik. Kolaborasi tersebut menjadi ruang bagi sivitas akademika untuk saling berbagi pengetahuan, pengalaman, dan praktik baik dalam pengembangan penelitian serta publikasi ilmiah.
Kehadiran narasumber dari lingkungan perguruan tinggi mitra menjadi bagian penting dari implementasi kerja sama tersebut. Melalui kegiatan akademik bersama, jejaring kelembagaan tidak hanya diwujudkan dalam bentuk kerja sama administratif, tetapi juga diterjemahkan ke dalam kegiatan konkret yang memberikan manfaat langsung bagi dosen dan mahasiswa.
Kegiatan dibuka langsung oleh Rektor UIN Palopo, Dr. Abbas Langaji, M.Ag., sementara Direktur Pascasarjana UIN Palopo, Prof. Dr. Muhaemin, M.A., bertindak sebagai moderator. Kuliah pakar diikuti oleh sivitas akademika Pascasarjana UIN Palopo, khususnya mahasiswa yang sedang mengembangkan kemampuan penelitian dan penulisan karya ilmiah.
Dalam sambutannya, Rektor UIN Palopo menekankan pentingnya membaca dan menulis sebagai bagian utama dari kerja akademik. Beliau mengawali dengan menceritakan kebiasaan Menteri Agama dalam membaca dan menulis, seraya menyampaikan pesan bahwa tulisan yang baik lahir dari kebiasaan membaca yang baik. Menurutnya, mahasiswa pascasarjana perlu membangun kebiasaan membaca secara konsisten. Dengan membaca, mahasiswa dapat memperluas wawasan, menemukan teori, memahami hasil penelitian terdahulu, sekaligus memperoleh gagasan yang dapat dikembangkan menjadi karya ilmiah. “Membaca dan menulis merupakan kerja akademisi. Membaca membantu kita menemukan pengetahuan, teori, dan berbagai hasil penelitian, sementara menulis menjadi sarana untuk mengolah pengetahuan tersebut menjadi sebuah gagasan dan karya ilmiah,” demikian pesan yang ditekankan dalam kegiatan tersebut.
Sementara itu, Prof. Dr. Fahmi Gunawan, M.Hum. dalam paparannya menekankan pentingnya penguasaan metode penelitian dalam menghasilkan tulisan ilmiah yang berkualitas. Menurutnya, setiap penelitian harus menggunakan metode yang sesuai dengan masalah dan tujuan penelitian.
Ketepatan metode akan membantu peneliti dalam menentukan data yang dibutuhkan, melakukan analisis, hingga menghasilkan kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik. Karena itu, kualitas sebuah tulisan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan berbahasa, tetapi juga oleh ketepatan desain dan metode penelitian yang digunakan. Prof. Fahmi juga memberikan wawasan mengenai pemanfaatan berbagai platform jurnal dan sumber ilmiah bereputasi yang dapat digunakan mahasiswa dalam mencari referensi. Mahasiswa didorong untuk tidak hanya mengandalkan sumber yang mudah ditemukan, tetapi mampu memilih artikel ilmiah yang relevan, berkualitas, mutakhir, dan sesuai dengan fokus penelitian. Pembahasan juga diarahkan pada pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam kegiatan akademik. AI dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk menemukan ide, menentukan kata kunci, memahami konsep, memetakan referensi, serta membantu proses awal penulisan. Namun demikian, penggunaan AI tetap harus ditempatkan sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti kemampuan berpikir peneliti. Informasi yang diperoleh melalui AI harus diperiksa, diverifikasi, dan dipertanggungjawabkan kembali oleh penulis. Peneliti tetap menjadi pihak yang bertanggung jawab terhadap substansi dan kebenaran karya ilmiahnya.
Dalam sesi berikutnya, Prof. Dr. Sitti Mania, M.Ag. menekankan pentingnya etika dan integritas akademik dalam penelitian dan penulisan ilmiah. Seorang akademisi harus menjaga kejujuran dalam seluruh proses penelitian, mencantumkan sumber secara benar, serta menghargai karya dan gagasan peneliti lain.
Menurutnya, perkembangan teknologi harus diikuti dengan tanggung jawab akademik. Penggunaan teknologi, termasuk AI, tidak boleh menghilangkan kejujuran, orisinalitas, dan integritas seorang peneliti.
Dalam diskusi, peserta juga diajak memperhatikan sejumlah aspek penting sebelum melakukan penelitian, mulai dari objek material, objek formal, konteks penelitian, hingga artikel atau referensi yang menjadi rujukan. Hal tersebut menjadi bagian penting dalam membangun penelitian yang memiliki fokus dan kontribusi yang jelas.

Sebagai moderator, Prof. Dr. Muhaemin, M.A., menegaskan bahwa mahasiswa Pascasarjana UIN Palopo diharapkan mampu menghasilkan karya ilmiah yang tidak berhenti sebagai tugas perkuliahan atau tesis. Karya tersebut perlu diarahkan agar memiliki kualitas dan kontribusi ilmiah sehingga berpeluang untuk disubmit dan dipublikasikan pada jurnal bereputasi.
Kuliah pakar ini sekaligus menjadi ruang penguatan budaya akademik dan implementasi nyata jejaring kerja sama UIN Palopo dengan perguruan tinggi mitra. Melalui kolaborasi tersebut, penguatan kapasitas penelitian diharapkan dapat terus berkembang melalui pertukaran keilmuan, kolaborasi akademik, dan pengembangan publikasi ilmiah. Melalui kegiatan tersebut, Pascasarjana UIN Palopo terus mendorong lahirnya akademisi dan peneliti yang tidak hanya memiliki kemampuan metodologis, tetapi juga mampu berpikir kritis, adaptif terhadap perkembangan teknologi, terbuka terhadap pendekatan multidisiplin, serta menjunjung tinggi integritas akademik. Membaca memperluas wawasan, metode memperkuat penelitian, referensi memperkokoh argumentasi, etika menjaga integritas, dan kolaborasi memperluas jejaring keilmuan.
Tinggalkan Balasan